SOROT BAGIAN 1
SOROT 234

Korea di Gerbang Perang Nuklir

Rudal berhulu ledak nuklir bersiaga di Korea. Perang segera pecah?

Sabtu, 6 April 2013, 01:18 WIB
Renne R.A Kawilarang
Foto:
Pemimpin belia Korut, Kim Jong-un, bertekad membela negeri, dan mempertahankan harga diri bangsa dengan kekuatan nuklir. (REUTERS/ KRT via Reuters TV)

Korea Utara Gelar Latihan Perang

VIVAnews --Dunia tengah disuguhkan "Perang Urat Syaraf" tingkat tinggi di Semenanjung Korea. Dalam beberapa pekan terakhir Amerika Serikat bersama sekutunya, Korea Selatan saling gertak dengan musuh mereka, Korea Utara.

Ini bukan ketegangan biasa. Tapi melibatkan dua negara bersenjata penghancur massal sekaligus perusak bumi. Berjuluk negara adidaya, AS punya armada kapal dan pesawat yang mampu menjatuhkan bom-bom nuklir. Walaupun negara miskin dengan banyak warga yang kurang makan, Korea Utara punya teknologi nuklir yang bisa diolah menjadi bom atom. Satu saja lepas tembakan rudal berisi nuklir dari salah satu pihak yang bertikai, bencana besar bisa muncul.

Perang urat syaraf ini adalah kelanjutan dari konflik turun-temurun di Semenanjung Korea. Sejak berakhirnya Perang Korea 1950-1953 melalui perjanjian gencatan senjata PBB, AS-Korsel melawan Korut terus berlangsung. (Cerita latar konflik itu bisa dibaca juga di SOROT 111 Konflik Korea, Kisah dari Utara).  Tapi situasi saat ini lebih menegangkan dari sebelumnya.

Ban Ki-moon, Sekretaris Jenderal PBB yang kebetulan adalah orang Korea, menilai ketegangan kali ini sudah "kelewatan." Para pemimpin dari negara yang bertikai belum mengendurkan sikap keras mereka.

Pemimpin belia Korut, Kim Jong-un, bertekad membela negeri, dan mempertahankan harga diri bangsa dengan kekuatan nuklir. Kalangan pengamat menilai retorika sangar dari Jong-un, bisa jadi hanya menegaskan posisinya sebagai pemimpin yang tak bisa dianggap sebelah mata, walau usianya diyakini baru 30 tahun. (Baca bagian 3 Kim Jong-un, Jenderal Bocah Pemain Nuklir).

Sebagai penerus dinasti penguasa tunggal Korut, Jong-un tampak ingin meneruskan kebiasaan almarhum ayah dan kakeknya, yaitu Kim Jong-il dan Kim Il-sung, dengan melontarkan retorika yang bisa membuat panas telinga para musuh-musuhnya di luar negeri.

Pemimpin Korsel juga tidak kalah garang. Sebagai presiden Korsel yang baru dilantik, Park Geun-hye juga melontarkan pernyataan keras militernya tidak segan membalas bila diserang.

Presiden AS, Barack Obama, tampak masih menahan diri meladeni gertakan Korut. Namun melihat manuver dari para jenderalnya, AS juga makin serius menghadapi ancaman dari Pyongyang dengan menyiagakan kekuatan militernya

Itulah sebabnya, tiga pekan terakhir, muncul kabar menegangkan dari Semenanjung Korea, terutama suara galak dari Korut. Kesal melihat AS dan Korsel, latihan militer bersama di dekat perbatasan pada 11 Maret 2013, Korut menyatakan mencabut perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea 1950-1953, walaupun PBB menyatakan perjanjian itu tidak bisa dibatalkan secara sepihak. Dengan kata lain Korut siap kembali mengajak perang Korsel dan sekutunya, AS.

Empat hari kemudian, Korut menuduh AS dan sekutunya melancarkan serangan atas jaringan internet mereka. Sejumlah situs resmi Korut tak bisa diakses. Empat hari berselang, AS menerbangkan pesawat pengebom B-52 ke Semenanjung Korea. Dikabarkan, ada ancaman Korut bakal menyerang fasilitas milik AS dan Korsel. Pesawat ini mampu membawa bom nuklir.

Sebaliknya, Korut tidak mau kalah. Pemerintah Korea Utara, melalui kantor berita KCNA pada 26 Maret 2013, menyatakan telah mengarahkan roket dan meriam artileri mereka ke pangkalan militer AS di Guam, Hawaii, dan Amerika Daratan.

"Mulai saat ini, Komando Tertinggi Angkatan Bersenjata Rakyat Korea akan siaga tempur dengan menyiapkan semua unit artileri darat -termasuk unit artileri jarak jauh dan roket strategis ke arah basis-basis invasi AS baik di daratannya, Hawaii, dan Guam," demikian pernyataan KCNA, yang selama ini jadi corong propaganda Korut ke luar negeri.

Di tengah ancaman itu, Korsel dan AS tetap melanjutkan latihan militer bersama hingga akhir April mendatang. Esoknya, 27 Maret 2013, Pyongyang memutuskan sambungan telepon militer dengan Korsel. Padahal itu satu-satunya, komunikasi resmi kedua negara selama gencatan senjata setelah Perang Korea.

Esoknya, AS menerbangkan pesawat pengebom yang mampu membawa bom nuklir ke Semenanjung Korea. Menurut CNN, kali ini adalah pesawat B-2 Spirit yang berteknologi siluman atau anti radar.

Selang beberapa hari kemudian, AS juga mengirim jet siluman terbaru, F-22 Raptor, ke pangkalannya di Korsel. Militer AS menyatakan pesawat itu bagian dari latihan bersama dengan Korsel, namun sambil diiringin pesan bahwa "AS punya kemampuan untuk melaksanakan serangan jarak jauh, cepat dan tepat."

Tensi di Semenanjung Korea pun makin tinggi. Pada 30 Maret, Korut menyatakan negaranya menerapkan "keadaan perang" dengan Korsel, sehingga menambah ketegangan di Semenanjung Korea. Serius dengan ancaman itu, sejak 3 April 2013, Korut pun menutup kawasan industri Kaesong. Para pekerja asal Korea Selatan tak bisa masuk ke sana. Padahal selama ini pusat industri Kaesong merupakan simbol persahabatan dua Korea.

Perang urat syaraf belum selesai. Pada 1 April 2013, Angkatan Laut AS mengerahkan armada kapal perang, radar, dan rudal ke dekat perbatasan laut Korsel-Korut. Ini menunjukkan AS mulai serius memantau setiap gerakan militer dari Korut.

Dua hari kemudian, AS pun mengumumkan segera mengirim sistem pertahanan rudal tercanggih, Terminal High Altitude Area Defense System (THAAD), ke Guam dalam beberapa pekan mendatang. Ini untuk mengantisipasi ancaman tembakan rudal Korut.

Rezim di Korut pun menjadi-jadi. Pada 2 April mereka mengumumkan diaktifkannya lagi reaktor nuklir di Yongbyon, yang ditutup sejak 2007. Reaktor itu diyakini bisa memproduksi senjata nuklir dalam jumlah besar.

Institute for Science and International Security, lembaga riset kebijakan di AS, pada akhir 2012 lalu melaporkan bahwa Korut bisa menghasilkan bom atom sebanyak 21-32 buah pada 2016 jika reaktor nuklir di Yongbyon diaktifkan lagi.

Perkembangan terkini, Menteri Pertahanan Korsel, Kim Kwan-jin, mengungkapkan pada 4 April lalu Korut telah memindahkan rudal ke pesisir timur negara itu. Kalangan pejabat AS, seperti dikutip stasiun berita ABC OTUS News, mengidentifikasi rudal itu tipe Musudan, yang berdaya jangkau 3.000 km, cukup untuk bisa sampai ke pangkalan AS di Okinawa dan Guam bila ditembakkan.

Ancaman rudal

Seberapa seriuskah ancaman Korea Utara? Kalangan pakar keamanan masih menganggap ancaman serangan nuklir Korut ke AS masih sebatas gertakan retorik.  Yang dikhawatirkan adalah tembakan rudal-rudal Korut, apalagi bila diisi oleh hulu ledak nuklir.

Tapi AS sendiri pun tampak belum mengetahui secara detail kemampuan rudal Korut dan seberapa besar ancaman yang ditimbulkan. Data intelijen mereka tampak masih terbatas. Korut menutup diri dari komunitas internasional, terutama Barat. Fasilitas vital Korut seperti reaktor nuklir tampak susah ditembus.

Mereka hanya bisa menilai Pyongyang telah meningkatkan kemampuan rudal mereka dalam beberapa tahun terakhir. Senjata penghancur itu bisa menyentuh Guam, Alaska, dan Hawaii. Namun, belum ada bukti Korut sudah menguji senjata nuklir yang dapat dipasang hulu ledak di rudal balistik, seperti milik AS, Rusia, dan China. Itulah sebabnya AS belum yakin Korut sudah bisa menembakkan rudal ke Amerika Daratan.

Gary Samore, pakar proliferasi nuklir AS, yakin ancaman dari Kim Jong-un kepada AS kemungkinan besar semuanya hanya gertakan. "Sangat-sangat tidak yakin mereka sudah punya rudal nuklir yang mampu mencapai AS," kata Samore, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Dia melihat Korut tidak senekad yang dikira banyak pihak. "Mereka tahu bahwa serangan apapun ke AS pada akhirnya juga akan berdampak kepada negeri mereka," kata Samore, yang kini mengajar di Kennedy School, Universitas Harvard, setelah menjadi salah satu penasihat keamanan Presiden Barack Obama bidang proliferasi nuklir.

Tidak jelas seberapa besar pengetahuan AS akan perkembangan program senjata Korut karena Washington sendiri masih merahasiakan laporan intelejen mereka atas negara komunis itu. Ada dugaan Korut baru bisa merancang  perangkat nuklir skala kecil yang bisa dimasukkan menjadi hulu ledak ke rudal-rudal jarak menengah buatan mereka, seperti Nodong.

Walau belum pasti Korut mampu membuat senjata nuklir dan mampu menembakkan rudal jarak jauh, ancaman militer Korut tetap membahayakan AS dan dunia. Rudal jarak menengah seperti Nodong bisa mencapai negara sekutu AS, seperti Korsel dan Jepang.

Pangkalan AS di Guam, Okinawa, dan Hawaii pun bisa menjadi target empuk. Maka, sudah lama intelijen AS mewaspadai rudal Korut lainnya, KN-08. Jarak tempuhnya lebih panjang dari Nodong, dan telah dipertontonkan dalam parade militer Korut tahun lalu.

"Kami yakin KN-08 kemungkinan besar punya jarak tempuh yang mampu mencapai AS," kata Wakil Ketua Gabungan Para Kepala Staf Militer AS, Laksamana James Winnefeld, kepada para jurnalis seperti dikutip Reuters Maret lalu.

Seorang pejabat AS tak mau disebutkan namanya menilai pihaknya yakin KN-08 bisa sampai ke wilayah-wilayah AS di kawasan Pasifik, seperti Guam, Hawaii, dan Alaska. Namun tak akan sampai ke AS Daratan.

Masalahnya pakar di AS sendiri masih belum solid mengenai seberapa pasti ancaman dari rudal KN-08. Ada yang menyatakan teknologinya masih belum sempurna, dan yang dipamerkan tidak lebih dari barang pajangan.  "Rudal itu belum siap untuk digunakan," kata Greg Thielmann, mantan staf intelijen dari Departemen Luar Negeri AS, yang kini aktif di Arms Control Association.

Awal April ini, ungkap Reuters, kalangan pejabat Barat mengungkapkan laporan Korut sudah menyiapkan rudal lain. Rudal itu bertipe jangka menengah, dan disebut Musudan atau Nodong B. Korut memindahkan rudal-rudal itu ke pesisir timur negeri mereka.

Tapi belum jelas apakah Musudan dipindah untuk menunjukkan gelagat buruk atau dipersiapkan untuk uji tembak. Rudal ini diyakini punya daya jangkau 3.000 km, lebih panjang dari Nodong dan bisa menjangkau seluruh Korsel, Jepang, dan kemungkinan Guam.

Namun, sekali lagi, Thielmann tidak yakin akan kemampuan rudal itu karena belum pernah diluncurkan. "Rudal yang belum pernah menjalani tes terbang belum bisa pula dioperasikan dan bukanlah ancaman yang dapat dipercaya," kata Thielmann.

Korut juga punya beberapa tipe rudal lain, seperti varian SCUD tipe B dan C yang masing-masing berjangkau 300 km dan 500 km. Juga ada beberapa puluh rudal tipe Nodong yang diperkirakan berjarak tempuh 1.300 km. Namun, menurut Thielmann, tidak ada satupun yang bisa menjangkau Guam, Hawaii atau Pulau Aleutia.

Efek politis

Suara netral berasal dari Rusia. Para pengamat di negeri beruang es itu menilai ancaman perang yang muncul selama ini hanya bersifat politis. Mereka tak yakin aksi pertempuran akan meletus. Alexei Pushkov, Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Parlemen Rusia (Duma), menilai ancaman Korut itu lebih terkait kepada latihan militer AS-Korsel yang dekat dengan perbatasan dua Korea. Pernyataan Pyongyang, menurut Pushkov, lebih diarahkan sebagai sinyal kepada AS.

"Mereka [Korut] mengambil pelajaran dari Perang Irak, saat Saddam Hussein tidak siap dan tidak mampu menerapkan serangan atas wilayah musuh. Korut, dengan mengancam AS dan pangkalan serta sekutunya, memberi peringatan bahwa mereka tak akan diperlakukan seperti Irak. Dan mereka punya potensi untuk membalas," kata Pushkov seperti dikutip RBTH Asia.

Pushkov juga melihat Korut sudah mencapai tujuannya. Setidaknya, membuat AS menanggapi pernyataan mereka itu secara serius, dan akan mengantisipasi apa yang bakal diterapkan Pyongyang.

Dia sendiri dan negaranya ikut resah. "Rusia tengah mengikuti situasinya dan sangat khawatir. Memberi sinyal dan menggunakan tekanan politik merupakan satu hal, namun menggunakan kekuatan militer untuk mengatasi isu ini betul-betul tidak dapat diterima," lanjut Pushkov.

Alexander Vorontsov, Ketua Departemen Korea dan Mongolia dari Russian Academy of Science Oriental Studies Institute, juga menilai pernyataan konfrontatif Korut bukan deklarasi perang atau memulai permusuhan. Pyongyang lebih melihat gencatan senjata dengan Korsel sudah berakhir. "Ini bukanlah deklarasi berniat memulai aksi militer, namun menunjukkan determinasi untuk membalas bila terjadi kemungkinan provokasi," kata Vorontsov, seperti dikutip RBTH Asia.

Dia mengingatkan ketegangan serupa beraroma konfrontatif, pernah terjadi di dekade 1960an. Saat itu Korut menahan sebuah kapal Amerika di perairannya. Krisis itu pada akhirnya bisa diselesaikan lewat pendekatan diplomatik, namun perlu waktu setahun.

Namun Vorontsov mengingatkan skenario terburuk, yaitu perang terbuka, ada konsekuensinya. "Tidak ada jaminan suatu konflik lokal bisa dicegah penyebarannya," kata dia. Bahkan negara seperti Rusia pun, yang punya garis perbatasan 17 km dengan Korut, bisa terpengaruh.

Efek negatif dari skenario perang terbuka itu, bagi Rusia, adalah bisa mengancam salah satu provinsinya, yaitu Primorye. Vorontsov mengingatkan ada risiko bencana lingkungan karena terdapat 30 reaktor nuklir di Korut, baik di sebelah utara dan selatan negara itu. "Mereka ini bisa menjadi 10 kali Chernobyl dan Fukushima," dia menambahkan. Banjir pengungsi dari Korut bila pecah perang besar tidak saja merepotkan China, namun juga Rusia.

"Saya berharap akal sehat akan menang,” kata Vorontsov.


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru