SOROT BAGIAN 3
SOROT 148

Yang Terserak di Rawagede

Rawagede kini menjadi Desa Balongsari. Jejak pembantaian Belanda masih membekas.

Jum'at, 12 Agustus 2011, 23:43 WIB
Anggi Kusumadewi, Nila Chrisna Yulika
Foto:
Ilustrasi pembantaian Rawagede (Radio Nederland Wereldomroep)

Sorot Rawagede Bagian 3 [KHUSUS SOROT]

Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa

(Sajak Krawang-Bekasi, Chairil Anwar, 1948)

VIVAnews--Senin, 8 Desember 1947.  Lukas Kustario menghimpun kekuatan di Rawagede.  Dia seorang serdadu. Pangkat Kapten. Suka nekat dengan nyali seribu. Petinggi militer Belanda memberinya julukan si  Begundal Karawang.  Kerjanya selalu bikin berang kumpeni.

Berkali-kali Lukas sukses menggempur  pos militer Belanda. Dia juga jadi momok sebab kerap menyergap mendadak patroli serdadu Kumpeni di daerah-daerah di sekitar Bekasi dan Karawang.

Berkali-kali diserbu dengan cara mengejutkan, militer  Belanda membuat perhitungan dengan Lukas. Dan suatu ketika petinggi serdadu di Jakarta mendengar informasi Lukas bakal melintas di Rawagede.

Rawagede adalah sebuah desa di Rawamerta. Terletak di antara Bekasi dan Karawang, Rawagede sudah menjadi markas gabungan semua laskar pejuang kemerdekaan.  Di situ ada Laskar Citarum, Barisan Banteng, Hizbullah, juga kelompok laskar lain yang menyala semangatnya mengusir Belanda.

Di kawasan itu banyak orang kaya.  Semangat mereka untuk merdeka juga membara. Itu sebabnya para laskar membangun basis di sini. Kaum berada itu suka cita menyumbang logistik. Tanpa diminta. Bukan hanya telur ayam. Kerbau pun mereka sumbang. Demi republik.

Pagi itu, Kapten Lukas hendak menghela pasukan ke Cililitan. Menyerang basis serdadu kumpeni di Jakarta. Persiapan sudah matang. Tapi sungguh celaka tiga belas. Pukul sembilan pagi, seorang mata-mata melapor ke Markas Belanda.  Belanda berang. Pasukan bersenjata bergegas. Menyusun siasat menyerbu duluan.  Pukul empat sore masuk berita dari Karawang. Rawagede bakal dibumihangus.

Penduduk di sana gemetar. Apalagi Kapten Lukas yang cekatan itu sudah membawa pasukan. Sudah tiba di Cibinong. Dan yang terjadi  sore itu memang bukan perang. Tapi pembunuhan. Warga desa dihajar ribuan serdadu kumpeni.  Berusaha bertahan warga desa membangun benteng.  Serdadu Belanda susah merangsek. 

Tapi benteng itu cuma sakti sejenak. Sebab serdadu Belanda menganti siasat. Menyerbu dari semua sudut. Jadilah kampung itu terkurung. Warga setempat menyebut siasat model beginian sebagai pengepungan “letter O”. Pukul 12 malam Rawagede sudah di “letter O” oleh Belanda.

Warga kampung melawan ribuan serdadu, jelas bukan perang.  Kalah jumlah. Kalah senjata. Di keremangan Selasa subuh, 9 Desember 1947, sebagian warga berusaha kabur dari neraka jahanam itu. Berlari ke arah sawah. Celaka, Belanda sudah menunggu di situ.

Sebagian ditangkap. Sisanya putar balik. Kembali ke desa. Tapi mereka yang berlari pulang itulah yang sial. Pelor berdesing mengejar.  Menancap di badan, berjatuhan, lalu mati.  Merasa di atas angin, pasukan Belanda merangsek masuk desa. Warga yang bertahan lintang pukang mencari perlindungan.

Tapi yang ada cuma rumah penduduk yang gemetar. Yang mengunci rapat pintu rumah. Cuma sedikit yang membuka pintu. Tapi Belanda justru menaruh curiga dengan rumah-rumah yang terkunci rapat itu. Pintu didobrak, mengeledah semua sudut rumah, dan mengiring penghuni keluar.

Di halaman kampung mereka dibariskan. Laki-laki disuruh berjejer.  Ketakutan tiada terkira menyapu wajah mereka. “ Di mana Lukas?” bentak seorang tentara Belanda. Mereka yang berjejer ketakutan itu diam seribu bahasa. Dipaksa buka mulut, mereka cuma menjawab, “Tidak tahu.” Para serdadu Belanda itu murka alang kepalang.

Dan “tidak tahu” itu bisa berarti kematian.  Peluru langsung menghujam.  Mereka yang berjejer itu berjatuhan. Tersungkur menemui ajal termasuk para lelaki belia belasan tahun. Warga di sana menyebut penembakan model beginian, di dredet.

Pukul 12 siang serdadu Belanda menemukan sebuah rumah yang dipenuhi pejuang dan warga. Dari wanita tua hingga anak-anak Belia. Pasukan Kumpeni langsung memberondong. Sebagian langkah seribu masuk hutan. Banyak pula yang lari lewat saluran air. Berlari sembunyi ke arah sungai. Banyak yang masuk ke dalam air. Juga sembunyi di bantaran sungai, di antara rerimbunan rindang pohon. Agak aman memang.

Tapi itu cuma sementara. Sebab serdadu Belanda menghela anjing galak ke bantaran sungai. Anjing-anjing itu menggonggong seperti sedang berburu. Tahu ada warga di sana, para serdadu beramai-ramai memberondong.  Mereka berjatuhan bersimbah darah. Mayat-mayat mengambang dan hanyut. Air sungai berubah merah darah.

Hari itu, 9 Desember 1947, 431 warga laki-laki sipil Rawagede mati bersimbah darah.  Hari itu, para lelaki punah dari kampung ini.  Hanya tersisa kaum wanita. Mereka menangis sejadi-jadinya. Mengenang  anak, suami dan ayah yang bertebar tanpa jiwa di sawah-sawah dan bantaran sungai.

Para wanita itu cuma bisa termangu. Ratusan jenasah itu urung dimakamkan sebab malam sudah datang. Esok harinya, Rabu 10 Desember 1947  ratusan wanita kampung bahu membahu mengangkut jenazah. Mengubur anak, suami, juga ayah.

Berhari-hari, bertahun-tahun  kemudian Rawagede menjadi kampung  janda. Penyair kondang, Chairil Anwar, mengenang pembantaian itu lewat sajak Karawang Bekasi. Chairil menulis sajak itu di daerah Anjun, dekat Masjid Agung Karawang.


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
sdn pancawati 2 karawang
27/09/2011
Sejarah besar bagi bangsa Indonesia ... rawa gede memiliki sebuah museum dan taman makam pahlawan tempat dmana pembantaian terjadi ..... tp sayang banyak yg tidak mengetahuinya ... Karawang adalah kota pangkal perjuangan ....
Balas   • Laporkan
novi
16/09/2011
g bs xmng ap2,ad ya kejadian ky gini...kmn hati nurani mrk saat itu,gmn klo mrk yg ad d posisi wrg desa..hbt istri,ank cucu mrk bs kasih kata maaf,wlopn mkn nti ad gnti rugi scr materi,q..wlopun bkn q yg xrasin dlm hatiq g bs maapin kjadian kejam gini!
Balas   • Laporkan
auliamuttaqin
15/09/2011
jadi inget sama Wim..si pelatih Tim Nas itu..hi..hi..
Balas   • Laporkan
Nung
15/09/2011
Nangis saya bacanya... terkutuk 7 turunan km londo2...
Balas   • Laporkan
rampai rampa
14/09/2011
emang orang londo gak ada perikemanusiaan, mengisap darah sampai kering. asli kering. sekarang gak pernah minta maap. londo londo.
Balas   • Laporkan
rampai rampa
14/09/2011
emang dasar londo, kayak lintah, isep sampai kering negeri ini.
Balas   • Laporkan
Sambas Bara
18/08/2011
Begitu besar pengorbanan rakyat Rawagede untuk mempertahankan negara ini, yang belum tentu aku mampu mempertahankan idealisme hingga ajal tiba. Terimakasih Para Pahlawan.... semoga Alloh memberi tempatmu Surga. Dirgahayu Republik Indonesia Merdeka ...
Balas   • Laporkan
ebu
14/08/2011
bukan hanya memilukan jika mengenang penjajahan belanda d indonesia,tetapi berdampak menjadi negara yg lambat berkembang
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru