SOROT BAGIAN 1
SOROT 136

Rindu (Daripada) Soeharto

Nama Soeharto kembali mencuat dalam survei. Kerinduan sesaat atau kebangkitan politik?

Jum'at, 20 Mei 2011, 18:28 WIB
Indra Darmawan, Ismoko Widjaya, Syahrul Ansyari, Suryanta Bakti Susila
Foto:
Presiden Soeharto (Wikimedia Commons)

Soeharto di Iklan PKS

VIVAnews--Enam mobil merapat ke satu rumah di Jalan Jambu 1 Menteng Jakarta Pusat.  Siang itu, Jumat 20 Mei 2011, Amelia Ahmad Yani --putri sulung almarhum Jendral Ahmad Yani, kedatangan tamu dari Partai Nasional Republik atau Partai Nasrep. Ada hajatan kecil rupanya: rapat konsolidasi partai.

Para tetamu duduk di ruang jembar itu. Rapat belum mulai. Mereka masih menunggu seorang penting lain. Dialah Tommy Soeharto, putra bungsu presiden di masa Orde Baru, Soeharto. Tommy adalah tiang. Sebagai Ketua Dewan Penasihat dia turut menghidupi partai itu. Tak heran, bila jauh-jauh hari sebelum deklarasi, partai ini akan mengusung Tommy Soeharto sebagai calon presiden RI.

Siang itu hari agak terik, dan listrik padam. “Tolong dong bilangin PLN suruh hidupin. Kita tidak betah nih. Panas,” jerit Amelia kepada salah satu pengurus Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN). Rumah itu tadinya memang markas partai itu. Tapi karena hanya menyabet  1,21 persen suara pada Pemilu 2009, partai itu tak lolos parliamentary treshold.

Tapi sebagai Ketua Umum PPRN Amelia tak patah semangat. Dia bertemu Tommy Soeharto, dan lobi antara dua anak jenderal yang sempat berteru di masa lalu itu, akhirnya menghasilkan kesepakatan. Mereka beraliansi menghadapi pemilu 2014. Partai Nasrep pun berdiri. Amelia masuk jadi tim formatur.

Kini Nasrep telah terdaftar di Kementrian Hukum dan HAM untuk turut pemilu 2014. Kendati visi dan misi partai belum jelas, tapi jualan utama partai ini sudah bisa ditebak. Mereka  membidik massa pemilih kecewa dengan kondisi reformasi yang telah berjalan 13 tahun.

"Nasional Republik akan mewadahi rakyat yang mendambakan situasi zamannya Pak Harto, yang aman, damai, dan sejahtera sandang pangan dan papan, " ujar salah satu inisiator Partai Nasional Republik, Letnan Jenderal Purnawirawan Edy Waluyo.

Menurut mantan Ketua DPRD DKI dua periode itu, kini Nasrep tengah menyiapkan mesin politiknya hingga ke 33 provinsi. Para elit partai itu masih dari wajah lama. Misalnya, Yus Usman Sumanegara (bekas Sekjen DPP Hanura), Sri Endang Astuti (Hanura), Dahlan Abdul Hamid (Bekas Ketua Umum Partai Bulan Bintang).

Selebihnya, kata Edy, Nasrep juga diperkuat bekas pejabat. Mulai dari purnawirawan, bekas bupati, Sekda, bekas camat, dan lain-lain. “Pembentukan embrio partai sudah hampir selesai. Kini kami tengah menyempurnakan AD/ART dan mempersiapkan deklarasi pada pertengahan Juni mendatang.”

Kedengarannya partai ini sangat bersemangat untuk lolos verifikasi. Apalagi, ada sedikit tonik penyegar dari survei IndoBarometer pekan lalu. Hasil survei itu: mayoritas rakyat Indonesia di semua provinsi menyatakan lebih suka kondisi di era orde baru ketimbang era reformasi. “Hasil survei itu membuat kami semakin pede,”  kata Edy bangga.


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
sah soh
18/06/2011
ku cum berpndpt,apakah seorang poetra sulung soeharto,bisa menjadi pemimpin sprti ayahy?........
Balas   • Laporkan
dipras | 27/06/2011 | Laporkan
Jelas bisa. Tommy Soeharto sdh punya bakat jadi predator. Tuh, BBPC contohnya, puluhan ribu petani cengkeh merana dibuatnya, terus Mobnas Timor...abisin APBN, kurang apalagi?
ciptaantuhan
17/06/2011
AKU KANGEN PAK SOEHARTO....PAK HABIBIE....HUHU....ANDAI KAYA DULU!! ^^
Balas   • Laporkan
mirs
16/06/2011
Semua Pemimpin Zaman Orde Baru Sekarang Ini Tidak Ada Yang Beres Kecuali President RI yang Pertama "SOEKARNO-HATTA". Selogan Baru Buat Pejabat Indonesia "Kesenanganku adalah Kesengsaraan Rakyat Indonesia".
Balas   • Laporkan
ezaaulia
09/06/2011
Semoga saja mereka mau melanjutkan apa yg telah diperjuangkan nama besar bapaknya (Jend. Soeharto & Jend. Ahmad Yani) tidak seperti pemerintahan skrg.Slogan ampuh (lanjutkan) kebingungan rakyat negeri yg besar ini.
Balas   • Laporkan
tahapa | 12/06/2011 | Laporkan
setujuuu
dipras
@dipras
09/06/2011
Roh Reformasi sendiri hanya dikenal, difahami, dimengerti dan disuarakan mahasiswa, intelektual, dan org2 yg terkena dampak sistem yg dikembangkan Soeharto + Kroninya di era ORBA. Sdg yg skrg duduk di Pemerintahan negeri ini adlh org2 dlm sistem Soehart
Balas   • Laporkan
dipras
@dipras
09/06/2011
Soekarno Pemimpin Besar, Soeharto Jendral Besar, Habibie Ilmuwan Besar, Gus Dur Kyai Besar, Mega Pantat Besar, SBY Jiwa Besar. DPR Sampah Besar...he..he..he.. yang nulis Nyali Besar
Balas   • Laporkan
tahapa | 12/06/2011 | Laporkan
yg kedua balas jd ikut nyali n nekat besar. hehehee
kangpoer | 09/06/2011 | Laporkan
Yang balas nekat besar
Pendukung Soeharto
08/06/2011
Jamannya Soeharto jauh lebih enak, hanya aktivis yang tidak kebagian jabatan yang merasa tidak enak. Buktinya skrg biar otak bodoh pun bisa jadi DPR asal ada duit. Jaman dulu semuanya dipilih oleh BABE. jadi ngak perlu ribut kayak sekarang.
Balas   • Laporkan
tahapa | 12/06/2011 | Laporkan
btul tuh kk
dipras | 09/06/2011 | Laporkan
Mental abdi dalem. Sendhika dhawuh gusti! Yang pasti GOLPUT adalah pilihan terbaik.
teroriss
02/06/2011
ya...ini semuanya infiltrasi fihak luar...tidak boleh ada lagi negara atau bangsa yG kuat lagi sebagai tandingannya...novus ordo seclorum, the new world order...apalah lagi namanya harus lahir...apa YG bisa di perbuat oleh hukum ketika uang yG berkuasa?
Balas   • Laporkan
adjie
01/06/2011
saya setuju untuk kembali ke zaman orde baru jadi dimana jaman itu tentram aman.kami kelompok mahasiswa jogja pecinta orde baru sangat mendukung sepenuhnya,&siap untuk mencari masa untuk membuat zaman erde baru lagi
Balas   • Laporkan
ciptaantuhan | 17/06/2011 | Laporkan
SETUJU !!!
tahapa | 12/06/2011 | Laporkan
mudahan
HANYA BANGSA BODOH YG MAU KEMBALI KE JAMAN SUHARTO,KITA HARUS MENATAP KE DEPAN APAPUN KONDISINYA,MASA LALU BIARLAH MENJADI KENANGAN DAN SEJARAH.
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
Info Iklan | Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Kode Etik | Lowongan
Copyright © 2014 PT. VIVA Media Baru